CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sunday, June 23, 2013

 Kisahku-Love And Fate
Written by : Sakin17

"Kin...banguuuuunnn!! kau sekolah tidak??bukannya hari ini ujian, dasar kau ini, seharusnya anak perempuan bangun sebelum subuh!!" teriakan ayahku benar-benar memekikkan telinga di pagi buta ini. " Iya 5 menit lagi" jawabku malas. Gubraghh...seketika aku beranjak dari kamarku, meloncat, lari dan mencari handuk atau apapun itu. "Dasar bodoh hari ini ujian jadi harus berangkat awal" batinku sambil menanggalkan handukku di tembok kamar mandi.
***
Secepat kilat aku sudah siap dengan setelan seragam bawah merah hati dan atas putih agak kekuningan. Ya kenapa kukatakan kekuningan karena seragam tuaku yang sudah berumur sekitar 3 tahun telah berubah warnanya agak kuning. Peduli apa, anak SD saat itu belum begitu peduli dengan penampilan, toh sebentar lagi ujian dan lulus, seragam itu sudah tak terpakai lagi. Bisa dibilang kala itu umurku sekitar 11 tahunan. Dengan gayaku yang apa adanya, rambut pendek bergelombang yang kubiarkan terurai, tas cangklong samping warna pink, dan setelan baju yang sedikit kebesaran, berpamitan kepada orang tua tercinta sembari memohon restu karena hari ini untuk pertama kalinya Sakin menghadapi ujian. Sukses mendapat restu dan kultum dari orang tua, segera kukeluarkan sepeda mini merah favoritku. Favorit karena kala itu sepedaku adalah yang terbagus dianatar teman-teman SDku. Namun sayang sekali, hari ini orang tercerewet di dunia namun juga terbaik di dunia yakni ibuku melarangku membawa sepeda ke sekolah. Alasannya yang dipaparkan cukup panjang dan lebar, namun dapat kutarik kesimpulan beliau khawatir kalau sampai aku celaka mengendarai sepeda di jalan desaku yang sangat ramai di pagi hari. Baiklah aku adalah anak yang penurut, hitung-hitung saat ujian agar tidak mendapat karma karena membangkang orang tua sehingga tak mampu mengerjakan soal. Batinku.
***
Langkahku terhenti saat aku telah memasuki gerbang sekolah, sebuah bola tersaji manis tepat 3 meter di depanku, seolah-olah memanggil dan merayuku untuk segera menendangnya, tak kuasa menahan ataupun menjauh dari rayuannya akupun berhasrat untuk menendang bola itu. Aku tau saat itu ada 3 pasang bola mata tengah memperhatikanku, Ian, Tio, dan Riyadh tengah duduk manis berjajar di bawah tiang bendera. Tanpa mempedulikan apa yang tengah mereka lakukan  di sana, aku mengambil ancang-ancang untuk menendang bola itu. Tatapan mereka bertiga masih biasa saja, kali ini aku berniat pamer pada mereka kalau aku juga bisa menendang bola sejauh tendangan bola anak laki-laki. Rasa banggaku hampir membuncah saat ujung kakiku sudah semakin menyentuh bibir bola itu. Naas..., impian bola akan melambung tinggi dan jauh terhapus yang ada hanyalah rasa sakit dan malu yang amat nian besarnya kini. Kudengar gelak tawa datang dari 3 anak laki-laki penunggu tiang bendera itu. " Dasar menyebalkan, awas ya kalian." gerutuku dalam hati. Baru kusadari kalau bola itu ternyata berisi batu bata, dan beberapa potongan batu, kerikil dan campuran pasir. Kufikir bola itu sobek dan diisi benda - benda itu untuk menjebak orang lain, dan parahnya korban pertamanya adalah aku.
Demi harga diriku yang tidak boleh sedikitpun jatuh di hadapan mereka, aku segera bangkit dari menyentuh kakiku dan berusaha untuk stay cool meski menahan sakit. Terlihat wajah puas mereka menertawakanku, matanya mengiringi langkahku memasuki ruangan kelas yang paling ujung.
Hanya bisa terdiam melewati mereka dan menahan malu yang teramat sangat, ingin rasanya membenamkan wajah merahku ke lubang boal itu jika bisa. " Haha...gimana masa Tsubasa tidak bisa menendang bola" celetuk Tio yang diikuti oleh tawa ketiganya. Senjataku kali ini hanyalah bisa terdiam.
***
Tepat pukul 08.00 WIB, semua anak-anak SD Harapan Bangsa telah memasuki ruangan kelas dan duduk di kursi yang telah ditentukan sesuai dengan namanya. Kedua bola mataku masih berkeliaran ke semua sudut untuk mencari kursi yang bertuliskan namaku. Dalam hati terbersit praduga " jangan-jangan aku akan duduk di sebelahnya dia". Itulah aku, selalu berpura-pura kesal jika ada hal-hal yang menyangkut dengan anak itu. Anak yang ada di salah satu gerombolan penjaga tiang bendera yang pagi ini menertawakanku. Dia Tio, anak yang sebenarnya kusuka selama q duduk di bangku Sekolah Dasar. Dalam hati aku senang jika kursi ujianku berada di dekatnya, siapapun anak manusia pasti akan seperti ini jika berada di dekat orang yang disuka. Namun sampai saat ini, saat kami akan berpisah setelah lulusan mindsetku ke dia tak pernah berubah. Kuanggap dia adalah cinta monyetku yang bertepuk sebelah tangan. Bukankah miris untuk anak seusia SD saja aku sudah merasakan kegalauan cinta bertepuk sebelah tangan. Sejak awal masuk aku tau kalau dia suka dengan teman sebangkuku Wiwit. Dan itu benar-benar menyebalkan karena kami bertiga tak hanya terlibat cinta segitiga namun juga persaingan segitiga. Tio dan Wiwit juga sainganku dalam perolehan peringkat kelas, terkadang ada Rian yang ikut terlibat dalam trio persaingan kami. Peringkat kami berkisar sekitar itu, terkadang aku atau Wiwit yang mendapat peringkat 1 dan 2, terkadang juga Tio dan Rian yang merebut posisiku. Itu telah berlangsung selama hampir 6 tahun.
Tio adalah anak RT sebelahku, dia tidak tinggi, gendut, dan baby face. Kulitnya yang putih bersih membuatnya semakin baby face. Selain itu gayanya yang sangat anak mama saat ke sekolah, julukan kiddo semakin tepat untuknya. Setelan bajunya yang rapi, dengan tas gendong yang menurutku sangat keren saat itu, serta kepintaran dan kebaikannya itu yang kurasa aku sukai darinya. Aku dan teman-teman gengku suka memanggilnya si gendhut, meski sebenarnya dia tidak gendhut, namun kami suka memanggilnya demikian. Anaknya yang cerewet dan usil semakin membuatnya kiddo sejati. Kepribadiannya yang ceria lucu, dan baik membuat dia punya banyak teman di kelas. Meski sebenarnya kami sekelas adalah teman.
Kemudian ada Rian, dari segi fisik dia sangat jauh berbeda dengan Tio, meski ada beberapa kesamaan.  Mereka sama sama pendek, alias tidak tinggi. Dan sedikit memiliki rasa bangga aku saat itu karena badanku sedikit lebih tinggi dari mereka. Mereka juga hampir sama pintarnya. Kesamaan lainnya ialah sama sama pribadi yang usil, ceria, ramai, lucu, dan baik hati. Namun menurutku mereka lebih banyak juga menyebalkannya. Untuk perbedaannya Rian memiliki kulit yang lebih hitam dari Tio, dan Rian juga tidak sebaby face Tio. Menurutku itu wajar karena Rian bukanlah keturunan dari sepasang ayah dan ibu yang memiliki kulit yang cerah. Setidaknya meskipun ayah Tio setahuku memiliki kulit yang hitam dan badannya kurus tinggi, namun ibunya memiliki kulit yang putih bersih badan yang tidak terlalu tinggi dan badan yang sedikit tidak langsing. Jadi ada kemungkinan bagi Tio untuk bercirikan demikian, putih, pendek, dan gendhut itulah bangganya aku untuk mengejeknya. Ciri khusus untuk Rian, adalah dia memiliki tahi lalat yang tidak dimiliki oleh semua anak di SD Pucang Gading. Gayanya saat ke sekolah hampir mirip dengan Tio, wajar jika mereka memiliki banyak kesamaan meski nota benenya berbeda karena mereka adalah teman sebangku yang sudah dekat sejak kelas 1 SD. Sungguh ironi karena aku dan Wiwitpun demikian, sungguh persaingan antara 2 kubu bangku.
Untuk Wiwit, dia gadis yang manis dan cantik. Seseorang yang sangat sederhana dan tidak begitu peduli dengan penampilannya sehari-hari. Dia gadis yang pintar dan saingan terberatku, selain karena kepintarannya ada satu hal lagi yang aku irikan darinya. Dia adalaha orang yang disukai oleh Tio. Benar-benar rival sejati.
***
Tepat pukul 08.00 pengawas ujian dari luar sekolah kami sudah bersiap untuk membagikan soal dan lembar jawab kepada kami. Suasana sedikit riuh oleh gesekan gesekan beberapa kertas yang diestafetkan dari depan ke belakang. Setelah selesai soal dan lembar jawaban dibagikan, kami masih harus menunggu para pengawas membacakan peraturan selama ujian, benar-benar rempong. Detik berlalu menjadi menit, 10 menit telah berlalu, terlihat pengawas tak serius mengawasi kami, mereka sibuk mengobrol dengan salah satu panitia ujian dari sekolah kami yang kala itu memasuki ruang kami untuk melihat jalannya ujian. Itulah kesalahan orang dewasa jika sudah saling bertegur sapa, untuk kami para anak-anak tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, selagi ada celah anak-anak untuk sekedar bertanya jawaban kepada yang lain. Lucu sekali, mata ujian hari Senin adalah PAI kepanjangan dari Pendidikan Agama Islam, kurasa itu sudah menjadi kebiasan di dunia pendidikan, senin selalu mengenai pelajaran moral dan akhlak atau bahasa bekennya mata pelajaran normatif. Yang lucu di sini, pelajaran normatif namun norma menyontek masih saja tak diindahkan. Yang akan kuingat sampai hari ini, nilai bukanlah sekedar apa yang tertulis di lembar jawaban kita.
Aku benar-benar tidak suka dengan adegan seperti ini, tidak bisakah mereka mengerjakannya dengan sendiri. Mungkin aku terlalu percaya diri tidak bertanya dengan teman sebelah seperti yang mereka lakukan, aku bukannya percaya diri dengan kemampuanku sendiri namun situasi yang tidak mendukungku untuk berdiskusi. Suatu hal yang tidak mungkin kulakukan untuk bertanya Tio, menegurpun aku tak berani, dia adalah bongkahan es yang mengahncurkan kapal titanicku. Sangat cuek dan dingin, dan itu terjadi hanya padaku saja, huh...benar-benar teman yang pilih kasih. Harga diriku amatlah tinggi, sesuka apapun aku padanya, harga diriku tak akan mengizinkanku untuk mempermalukan diriku sendiri dengan bersikap ramah padanya.
Saat kutengah konsentrasi dengan lembar jawabanku, kulihat ada sebuah jari kecil menunjuk-nunjuk fotoku yang tertempel di meja. Siapa lagi kalau bukan jari si gendut Tio, jeeezzz...benar-benar orang Jawa sejati, baru saja aku mengumpat dinginnya orang ini di dalam hati, hanya berselang detik seolah-olah tak terima dengan umpatanku dia ingin menunjukkan kalau dia tak sedingin itu. Anak seperti dia berbicara nonsense padaku, "hihi...fotonya lho, kaya anak kecil" guraunya mengejek fotoku. Heran bercampur senang aku saat itu, di tengah keadaan gentingnya ujian seperti ini dia sempat saja menggurauiku, benar-benar orang yang sulit ditebak. " Biarkan saja, wekkk..." balasku. "Eh liat donk jawabanmu, no. 5 gimana?" tambahnya tiba-tiba. Kau benar-benar mau menurunkan pamormu di mataku ya, batinku. " Enak aja, tidak boleh! " " Jezzz...kau pelit sekali, lihat itu punyamu salah, bukan seperti itu" tangkasnya. Dia benar-benar, jadi maksudnya bertanya untuk mencontek atau mau mengejek, aku sadar dia lebih pintar dariku, tapi meskipun tidak menyukaiku setidaknya tidak usah mengejekku. Batinku kembali memberontak, "biarkan saja" . Tiba-tiba, sreeettt.....dia menarik kertasku, reflek akupun menahannya, tarik menarik kertas tak terelakan di antara kami. Benar-benar saat ujian terkonyol, alhasil si kertaspun yang menjadi korbannya, lembar jawabku sobek karena keganasan kami. Tak terelakan lagi, kamipun kena marah oleh guru kami. Karena itu kertasku maka aku tersangka utama di sini. "Ayo cepat masukan laci kertasmu, jangan sampai pengawas itu tau, kerjakan serius jangan bercanda!" tegas si panitia ujian itu. Yah memang kami masih beruntung karena saat itu pengawas ekstern tengah keluar kelas, setidaknya image sekolah kami tetap terjaga. Benar-benar aku siswa paling sial di SD ini.

BERSAMBUNG